Situasinya kurang positif, jagat bulu tangkis harus legawa jika tak bisa lihat Viktor Axelsen tanding lagi
Jagat bulu tangkis terancam melihat akhir lebih cepat dari salah satu pemain bintangnya. Mantan tunggal putra nomor satu, Viktor Axelsen, sedang berada di persimpangan jalan dalam kariernya.
Aksi Viktor Axelsen di lapangan belum terlihat lagi sejak dia tampil pada perempat final French Open 2025, Oktober tahun lalu.
Saat itu, publik melihat tanda-tanda positif dari kembalinya peraih emas Olimpiade dua kali itu setelah menepi lama untuk operasi punggung.
Axelsen tampil kompetitif dalam dua turnamen beruntun di Benua Biru dengan pencapaian babak empat besar Denmark Open dan semifinal French Open.
Tampil sebagai underdog karena peringkat yang turun, sosok yang akrab disapa Viggo masih bisa mengalahkan pemain top lain seperti Chou Tien Chen dan Kunlavut Vitidsarn.
Adapun kekalahannya dialami dari pemain papan atas, Shi Yu Qi dan Anders Antonsen, dan selalu setelah tiga gim yang alot.
Namun, Axelsen mengundurkan diri dari semua ajang yang hendak diikuti pada awal tahun ini, termasuk Indonesia Masters 2026.
Setelah kepastian soal comeback-nya masih tanda tanya, sebuah kabar kurang mengenakkan datang dari dokter yang pernah menanganinya, Morten Zebitz.
"Situasinya tidak terlihat sangat positif," ucap Zebitz, dilansir dari TV2 Sport.
"Dia sangat terdampak dengan masalah punggung yang kambuh lagi, dan ini ditambah dengan masalah punggung yang sudah ada sebelumnya."
Zebitz membeberkan cedera yang lama disebabkan karena akumulasi dari tahun-tahun sebelum itu. Punggung Axelsen sudah bermasalah sejak lama.
Bahkan sebelum mempertahankan raihan emas pada Olimpiade Paris 2024, tepatnya enam pekan jelang tanding, Axelsen memeriksakan punggungnya lagi.
Zebitz memberikannya pengobatan untuk meredakan rasa sakitnya.
Luar biasanya, Axelsen menjadi kampiun Olimpiade untuk kedua kalinya tanpa kehilangan satu gim pun dari babak penyisihan grup sampai final.
Zebitz menyebut daya tahan Axelsen terhadap rasa sakitnya melebihi batas normal. Rasa nyeri pada punggungnya merampat ke bagian kaki karena saraf yang ikut terdampak.
"Kondisinya sangat parah. Dia telah bertanding dengan rasa sakit berulang kali selama bertahun-tahun," tukas Zebitz.
"Bahkan saat kalah dalam pertandingan yang seharusnya bisa dimenangi, dia tidak pernah sekali pun menyinggung punggungnya. Dia tak pernah menggunakannya sebagai alasan."
"Saya tahu betapa sakitnya ketika ada sesuatu yang menekan saraf, dan saya akan mengatakan bahwa itu akan menjadi alasan yang sangat baik untuk dipakai."
Axelsen akhirnya menjalani operasi pada April tahun lalu disusul masa rehabilitasi selama kurang lebih lima bulan.
Harapan untuk bertanding tanpa rasa nyeri sayangnya belum usai. Masalah yang dihadapinya sebelum operasi itu kembali.
Zabitz tidak menyarankan Axelsen untuk menjalani operasi lagi. Apabila tubuhnya diforsir untuk pertandingan kompetitif dalam waktu lama, penyakit yang sama akan kembali.
Menurutnya, sudah saatnya Axelsen mempertimbangkan kehidupan setelah bulu tangkis.
Kalimatnya diulangi legenda bulu tangkis Denmark, Joachim Fischer.
"Kita telah mencapai titik di mana kita mungkin tidak akan melihatnya di lapangan lagi," ucap pria yang dulu menjadi rival Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.
"Namun, dia telah memberi kita 100 kali lebih besar daripada pemain lainnya. Dia adalah salah satu pemain terbaik. Dia telah memenangi emas Olimpiade dua kali."
"Dia memiliki dua putri kecil yang sangat dia cintai, dan dia seharusnya juga punya kesempatan untuk berjalan-jalan dengan mereka ketika sudah pensiun."
"Kita semua menginginkan dia kembali. Kita tahu bahwa jika dia bisa kembali, dia masih akan bertanding dengan sangat baik."


0 Response to "Situasinya kurang positif, jagat bulu tangkis harus legawa jika tak bisa lihat Viktor Axelsen tanding lagi"
Posting Komentar